Dibayar Cash Sama Allah SWT

June 29th, 2008 Safak Muhammad Posted in Financial, Inspirations, Lesson Today | No Comments »

Minggu pagi, 29 Juni 2008, tidak seperti biasanya saya mau diajak anak dan istri saya untuk jalan-jalan pagi di sekitar kampus STEKPI Kalibata. Selama ini saya memang agak malas untuk berolahraga pagi. Dan pagi itu pun sebenarnya saya juga malas. Tapi karena mereka sangat mengharapkan acara jalan pagi bersama, maka saya pun bersedia. Lagi pula, minggu - minggu ini adalah masa liburan sekolah anak. Jadi apa salahanya kalau saya juga ikut ‘libur’ dan berbagi kebahagiaan liburan sekolah.

Pada acara jalan dan senam pagi itu sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan suasana di sekitar kampus STEKPI pagi itu sangat crowded sesak dengan ratusan bahkan ribuan orang yang lagi ‘jalan-jalan’ di pasar kaget. Singkat cerita, ketika kami sekeluarga pulang dan melewati jalan di depan makam pahlawan Kalibata, saya melihat beberapa orang yang membawa cangkul dan linggis. Mereka nampaknya sedang menunggu orderan untuk menurunkan barang di truk atau menuggu orderan untuk pekerjaan kasar lainnya, yang sebetulnya juga tidak jelas. Bahkan setahu saya, mereka itu orang-orang yang hidupnya menggantungkan dari pekerjaan yang tidak tetap seperti itu.

Saat melewati mereka, terbersit dalam hati, “kasihan ya…, mereka”. Ya.. cuman sebatas itu yang ada dalam pikiran saya. Kemudian saya terus berjalan pulang. Ternyata di depan juga ada beberapa orang yang sama. Saat itu, saya merogoh kocek dan hanya Rp10 ribu yang ada di dalam kocek celana saya. Pagi itu saya memang hanya membawa uang beberapa rupiah saja, karena menurut saya tidak

perlu membawa uang banyak. Uang Rp10 ribu itu pun akhirnya saya berikan kepada salah satu diantara mereka. Responnya terlihat sangat senang. Saya pun ikut senang melihat reaksi mereka, sambil tetap berlalu.

Setelah kejadian itu, saya sudah tidak berpikir macam-macam. Hanya saja saat dalam perjalanan pulang saya sempat bicara pada kedua anak saya. “Kita harus bersyukur, kita masih punya uang. Sedangkan mereka, uang Rp10 ribu itu sangat berharga sekali dan bisa untuk makan sehari. Tapi kita, uang Rp10 ribu kadang-kadang merasa tidak ada artinya dan hanya kita belikan mainan saja”. Mendengar ‘wejangan’ seperti itu, kedua anak saya mengatakan serempak “Iya pak…. syukur ya kita..”

Pada siang harinya, kami sekeluarga pergi ke Senayan dengan tujuan untuk jalan di Jakarta Book Fair dan Pameran Bobo. Nah, disinilah, kejadian yang tanpa disangka-sangka membuat kami sekeluarga tertegun. Ketika kami sampai di loket Pameran Bobo dan sedang ngantri beli ticket, tiba-tiba ada seorang pria berumur kurang lebih 35 tahun mendekati kami dan menawarkan ticket masuk gratis. Awalnya kami sempat ragu karena kami sering mendapatkan tawaran-tawaran gratis tapi ujung-ujungnya ada biaya-biaya. Maka ketika tawaran itu diberikan oleh seorang pria tidak dikenal itu, saya pun sempat menolak. Tapi anehnya, pria itu tetap memaksa dan menunjukkan sebuah surat undangan untuk Pameran Bobo, dan bisa digunakan maksimal 5 (lima) orang. Maka, kami pun bersedia masuk arena pameran bersama pria tak dikenal itu secara gratis.

Setelah masuk pameran, kami berpisah dengan pria tak di kenal itu. Kami sekeluarga pun saling pandang, istri saya kemudian mengatakan, “Kayaknya itu karena tadi pagi sampean (kamu) ngasih orang (tukang pekerja kasar) di Taman Makam Pahlawan, mas”. Sebelum saya menjawab kedua anak saya serempak mengatakan “Iya kali pak…”. Saya pun akhirnya hanya berucap dalam hati “Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah bayar amalan saya secara cash“. Dan terus terang, saya sangat terharu dengan kejadian itu.

Beberapa kemudian saya teringat dengan janji Allah dalam Alqur’an, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui”. Q.S Al - Baqarah (2) : 261

Wallahua’lam bisshawaab.

AddThis Social Bookmark Button

Sekolah Buah Simalakama? (Bagian Pertama)

June 28th, 2008 Safak Muhammad Posted in Advocacy, Motivation | No Comments »

Menjelang liburan sekolah dan memasuki tahun ajaran baru ini, orang tua murid disibukkan dengan persiapan sekloah putra-putrinya, untuk memilih sekolah ataupun universitas terbaik. Hal ini tentu saja wajar, karena sebagian besar orang beranggapan sekolah (baca menuntut ilmu) hanya dapat dilakukan di gedung sekolah -sekolah formal mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi (universitas).

Namun kenyataannya tidaklah demikian. Menuntut ilmu atau belajar tidak hanya disekolah formal, tetapi dimanapun kita dapat melakukan dan tidak terbatas pada usia. Belajar harus dilakukan dimanapun dan tugas kita adalah menjadi manusia yang selalu belajar selama hidup. Dengan demikian apa yang kita pelajari setidaknya memiliki tujuan, pertama memahami tugas manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab pada diri sendiri, lingkungan dan Tuhan. Kedua, proses belajar harus mampu menjadikan manusia dapat menemukan jati dirinya dan memimpin diri sendiri maupun hubungannya dengan sosial kemasyarakatan; Ketiga, belajar dengan ilmu - ilmu yang mampu mengeksplorasi kekayaan alam demi kemakmuran tanpa mengganggu keseimbangannya. Untuk proses ini, tidak bisa hanya mengandalkan sekolah atau perguruan tinggi atau hanya lewat kursus - kursus dan pelatihan di perusahaan - perusahaan, tetapi terlebih penting dalam konteks kehidupan nyata sehari - hari, di ‘sekolah besar’ kehidupan.

“Aku punya enam pelayan yang jujur. Mereka mengajar segala yang kuiingin tahu. Nama mereka adalah Di mana, Apa, Kapan, Mengapa, Bagaimana, dan Siapa”
Rudyard Kipling,
Sastrawan Inggris, 1865-1936

Kenyataannya, proses pendidikan masih banyak menghasilkan kerancuan - kerancuan atau ketersesatan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar, Andreas Harefa mengatakan bahwa sebab utama ketersesatan pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga universitas dan kemudian berlanjut ke dunia kerja, berakar pada ketidakmampuan berpikir secara lateral, kreatif dan ‘liar’ dalam arti tidak terpolakan.Untuk waktu yang cukup lama, pendidikan (dan pelatihan di perusahaan) telah dininibobokan oleh ilusi - ilusi pola pikir linier dan arogansi ‘manajemen pendidikan unggul’ dalam memetakan masa depan (membuat blue print atau cetak biru yang ‘siap dipakai’, efisien, kaku, dan ‘serba pasti’) yang tidak memiliki landasan falsafah seperti visi pendidikan nasional.

Kurikulum pendidikan formal dan lingkungan pendukungnya seakan hanya untuk mencetak manusia seragam, menjadi pegawai. Tanda-tanda ini sudah terlihat sejak Play Group dan TK yang juga didukung orang tua karena berperan mengarahkan anaknya menjadi pegawai. Bayangkan saja, dari seratus dua puluh sembilan siswa di sebuah TK yang pernah saya ‘survei’, hanya satu setengah persen yang bercita - cita menjadi pengusaha dan paling banyak bercita-cita menjadi dokter atau sebesar tiga puluh persen disusul tentara, polisi dan pilot. Wajar bila kemudian di kota besar hingga kota kecil bermunculan les matematika, fisika, sempoa, mengetik, komputer dan sejenisnya untuk mendukung cita - cita itu dengan cara mengasah kecerdasan intelektual (IQ) saja. Demikian juga dengan lembaga pendidikan kursus (non formal) yang juga hanya mendidik siswa agar memiliki keahlian dibidang ketrampilan tertentu sehingga siap kerja, tanpa membekali siswa agar siap memulai usaha dengan ketrampilannya itu. Dengan demikian, orientasi dan tujuan kurikulum terlihat jelas hanya untuk mengembangkan IQ dan sangat minim dalam pengembangan kecerdasan emosi (EQ) apalagi kecerdasan emosi spiritual (ESQ).

Bukti lain terhadap ‘tuduhan’ itu dapat dilihat dari berbagai iklan perguruan tinggi (PT) di media massa, yang lebih ‘menjual’ keberhasilan alumni dalam mendapatkan pekerjaan atau peningkatan jabatan setelah kuliah. Pada pertengahan Agustus 2004 lalu, ketika Seleksi Penerimaan Mahasiswa baru (SPMB) diumumkan di media massa, sebuah perguruan tinggi memasang iklan pada sebuah koran harian di ibukota dengan bangga mengatakan, “82% lulusan kami mendapatkan pekerjaan kurang dari 6 bulan”. Sementara PT yang lain memasang nama dan foto beberapa alumni yang dianggap berhasil menduduki jabatan di BUMN, perusahaan swasta, maupun instansi pemerintah.

Akibat berbagai kerancuan tersebut maka muncul masalah ketika sekolah sudah banyak meluluskan sarjana, sementara jumlah lapangan kerja terbatas dan para sarjana baru itu terpaksa menjadi ‘pengangguran intelektual’. Berbagai problematika yang menyertai dunia pendidikan tersebut, tidak terlepas dari persepsi atau mitos keliru di masyarakat maupun dunia usaha, diantaranya :

Pertama, masyarakat beranggapan bahwa yang namanya orang terdidik itu adalah orang sekolahan, sehingga bagi yang tidak sekolah formal meskipun ia cerdas dan memiliki pengetahuan luas bukanlah orang terdidik, ‘orang sekolahan’ atau tidak intelek. Masyarakat juga masih menilai salah satu bukti sukses seseorang adalah karena gelar akademik yang dimilikinya dan harus mendapatkan pekerjaan ‘layak’ sesuai pendidikannya. Saya juga melihat masih banyak orang sukses merasa minder hanya karena tidak memiliki pendidikan formal dengan gelar akademik. Untuk itu sering kali mereka melakukan segala cara untuk mendapatkannya, tak terkecuali tanpa proses belajar memadai, orang dengan bangga menambahkan gelar BBA, MBA, PhD, Doctor dan gelar yang ia suka didepan atau belakang namanya. Simak saja beberapa pejabat tinggi yang menempelkan gelar sarjana dibelakang namanya hanya untuk menambah ‘PD’ (percaya diri), tidak peduli apakah gelar akademik itu diperoleh dengan sekolah beneran atau hanya membeli di ‘kampus’ hotel atau bahkan memalsukan ijazah seperti yang dilakukan beberapa calon legislatif yang terhormat pada pemilu 5 April 2004 lalu. Ada juga cerita lucu mengenai seseorang yang ‘gila’ dengan gelar akademiknya. Suatu hari, sebut saja namanya si Fulan yang sudah memiliki banyak gelar akademik berderet seperti ini : Prof. DR. KH Si Fulan, SH, MA. Dalam suatu acara pernikahan, sang MC ketika mempersilahkan sang profesor tampil ke podium tidak menyebutkan dengan lengkap gelarnya itu, maka si Fulan tersinggung karena merasa susah payah sekolah untuk mencapai gelar itu.

Kedua, menuntut ilmu itu harus di di sekolah favorit. Akibatnya banyak orang berusaha ‘mati-matian’ untuk mendapatkan sekolah ataupun perguruan tinggi favorit, meski IQ mereka sebenarnya tidak mampu. Tidak peduli dengan menghalalkan segala cara, termasuk membayar uang pelicin, menggunakan joki dalam ujian masuk, dan sebagainya. Dengan cara tersebut mereka telah membohongi diri sendiri dan telah merusak tujuan pendidikan itu sendiri. Realitas ini semakin menunjukkan bahwa berbagai problematika di masyarakat ini sebenarnya juga telah dimulai dari ketersesatan di dunia pendidikan kita.

Ketiga, niat sekolah hanya untuk mencari pekerjaan atau untuk meningkatkan jabatan (promosi) bagi yang sudah bekerja. Tujuan luhur pendidikan menjadi hilang, sehingga pendidikan menjadi barang modal (investasi) untuk meraih masa depan dengan cara mendapatkan pekerjaan ‘aman’. Kondisi demikian tidak terlepas dari mental pegawai dan karena permintaan dunia usaha yang mensyaratkan gelar akademik tertentu untuk posisi pekerjaan yang dibutuhkan dari pada mengutamakan pengalaman, pengetahuan maupun kemampuan individual. Simak saja lowongan kerja baik dimedia cetak ataupun elektronik, pendidikan selalu menjadi prasyarat utama. Begitu juga bagi orang yang sudah bekerja, meskipun memiliki kompentensi tinggi dan mampu bekerja dengan baik, bisa terganjal promosinya hanya karena tidak memiliki gelar akademik. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa banyak kuliah extension menjadi pilihan pegawai karena ada ‘oknum’ penyelenggara sekolah maupun universitas yang memberikan dispensasi absensi kepada siswa / mahasiswa, asalkan membayar biaya sekolah dan mengikuti ujian saja untuk mendapatkan ijazah. Ijazah dianggap sangat penting bagai ‘barang sakti’ untuk kerja, sampai-sampai ada yang tak peduli apakah ia lulus dengan membuat skripsi sendiri, dibuatkan atau menjadi plagiator;

Keempat, adanya persepsi drop out identik dengan gagal dalam pendidikan. Akibatnya masyarakat menganggap orang yang putus sekolah (tidak kuliah) sebagai masyarakat ‘bawah’ yang tidak layak mendapatkan sukses dan memiliki ‘madesu’ (masa depan suram). Kenyataannya tidaklah demikian karena banyak tokoh atau pengusaha sukses yang tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan SMA saja tidak tamat;

Tujuan pendidikan yang tergambar dalam kurikulum seharusnya tidak hanya menjadikan siswa berpaling pada dunia semata, tetapi harus seimbang, menjadikan manusia yang mampu mandiri secara materi dan memiliki spiritualitas yang tinggi. Output pendidikan tidak boleh hanya diukur dengan jumlah lulusannya yang menjadi pegawai atau memiliki kekayaan, tetapi harus mencakup lebih banyak hal. Output pendidikan harus mengarahkan siswa - siswinya untuk semakin mampu memanusiawikan dirinya, masyarakat dan bangsanya dan bukan malah menjerembabkan ke jurang materialistik dan formalistik belaka.

“Bagi saya pendidikan bertujuan mengajar seseorang bagaimana cara menghasilkan yang terbaik dari dalam dirinya dan mengembangkan dirinya ke tahap yang terbaik sesuai bakatnya”. Tetapi ‘tujuan’ hari ini tampak seperti untuk mendapatkan pekerjaan, mencari pekerjaan- PEKERJAAN! PEKERJAAN!, PEKERJAAN!” Apa jenis pekerjaannya tidak masalah. Apakah seseorang menyukai pekerjaan atau tidak pun tidak penting, asal ia bekerja. Ini sering membawa kepada aspek yang satu lagi, yaitu apabila seseorang mendapatkan suatu pekerjaan, ia takut kehilangan. Begitulah keadaannya, sehingga saya mengenali banyak kawan dan orang lain yang begitu mencintai pekerjaan mereka - kecewa bagaikan pasak empat persegi di dalam lubang bulat”.

Billi PS Lim, penulis buku Dare to Fail

Akibat sistem pendidikan yang ‘tidak mendidik’ maka tidak sedikit, bahkan mayoritas lulusan perguruan tinggi selalu berusaha mencari pekerjaan yang dianggap ‘mapan’ dan memberikan jaminan ‘keamanan’ di masa depan. Jarang yang bercita-cita untuk memulai usaha baru atau meneruskan usaha keluarga. Bahkan banyak orang tua yang tidak memiliki ahli waris karena anaknya tidak mau mengikuti jejaknya sebagai pengusaha walaupun usahanya sudah maju. Masyarakat juga masih memiliki persepsi salah dan merasa ‘sia-sia’ apabila tidak dapat bekerja di diperusahaan dengan mengandalkan ijazah sekolah tingginya, karena sejak awal siswa dan orang tua hanya berniat untuk menjadi pegawai.

*) Berlanjut ke Artikel Bagian Kedua

AddThis Social Bookmark Button

Kenikmatan Berburu Buku Langka

June 15th, 2008 Safak Muhammad Posted in Media Coverage | No Comments »

Dua tahun lalu, saya belum kenal dengan buku-buku tua atau antik. Bahkan dibenaknya, buat apa buku-buku bekas, tua/antik yang kertasnya sudah berwarna kuning bahkan lusuh itu dikoleksi. Tapi, pikiran itu berubah total setelah pada suatu hari dia membaca sebuah koran ibukota yang membahas tentang buku-buku tua dan profil seorang pedagang buku tua yang cukup sukses.

Otak dagang saya pun mulai jalan, dan mulai berencana mengembangkan bisnis ini: berjualan buku-buku bekas, tua dan antic. Hal ini juga sejalan dengan bisnis saya yang sudah ada yakni penerbitan buku. Tak disangka, bisnis ini membawa saya menjadi pemilik toko buku-buku antic www.bukubagus.com (antique, unique & rare books center) sampai sekarang.

Untuk mewujudkan niat tersebut, pada akhir tahun 2006, saya mulai bergerilya mendapatkan buku-buku antik dan langka. Karena dia tidak mengetahui bagaimana mendapatkan buku-buku tua itu, saya mencoba dengan memasang iklan di sebuah harian ibukota. Sayangnya, hasilnya tidak menggembirakan. Hanya ada beberapa orang yang menawarkan buku. Ironisnya lagi, semuanya menawarkan buku Dibawah Bendera Revolusi tulisan mantan presiden Ir. Soekarno dengan harga diatas Rp10 juta rupiah. Saya pun mulai ragu, apakah saya bakal bisa berbisnis buku-buku tua ini, karena khawatir susah mendapatkan supply buku-buku tersebut. Kalaupun ada, harganya mahal sekali.

Beberapa hari kemudian, saya ditelepon oleh seorang sopir angkutan umum yang menawarkan sebuah buku lawas karangan Jawaharlal Nehru terbitan 1950-an. Buku itu ditawarkan Rp 100 ribu. Saat itu saya bilang pikir-pikir dulu, karena menurut saya buku itu mahal!. Sepekan kemudian, saya menelepon sopir angkot tersebut dan menyatakan setuju atas tawaran buku itu. Sayang, buku itu sudah menjadi abu. Buku itu sudah dijadikan bahan perapian untuk menanak nasi oleh ibu si sopir.

Sejak kejadian pahit itu, saya bertekad menyelamatkan buku-buku langka. Menurut saya, buku-buku langka sangat bermanfaat bagi para kolektor ataupun peneliti, juga bagi mereka yang ingin ‘kembali’ ke masa silam (bernostalgia). Tekad saya yang semula mengendur, kini semakin kuat untuk menekuni bisnis buku antik dan langka. Anehnya, sejak kejadian itu, niat saya berubah. Tidak hanya bisnis semata, tetapi justru ingin menyelamatkan buku-buku tua yang nyaris punah.

Kini, saya sudah memiliki koleksi hampir 25.000 buku. Saya pun sangat menikmati berburu buku langka. Ternyata, berburu buku langka itu ternyata mengasyikkan. Mengapa? Menurut saya, butuh ketekunan dan pengorbanan. Paling tidak, ada empat hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, karena pekerjaan ini butuh ketelatenan atau kesabaran. Berburu buku langka itu susah-susah gampang. Sebab, tukang loak seringkali tidak tahu bahwa buku yang dijualnya termasuk kategori langka. Maka dari itu, mereka menjualnya dengan harga murah. Padahal kalau sudah di tangan kolektor harganya sangat tinggi.
Kedua, karena seringkali harus bertemu dengan para pemulung, tukang loak atau pengumpul barang bekas, saya pun harus mampu memahami perilaku mereka. Jika tidak, jangan harap akan mendapatkan buku-buku yang diinginkan. Para tukang loak, biasanya sudah memiliki banyak pemesan buku-buku langka dari para kolektor. Karena itu, sebagai pemain baru, butuh kerja ekstra untuk ”mencuri” hati mereka agar mau menjual barangnya kepada kita.
Ketiga, kita juga harus mampu memberikan pemahaman agar tukang loak itu tahu soal judul, tema, atau pengarang buku yang termasuk kategori langka. Pasalnya, jika penjual tidak paham, buku itu bisa digunakan untuk yang lain, misalnya untuk bahan perapian. Risikonya memang harga belinya jadi naik, tapi itu lebih baik daripada hangus jadi abu. Nah, disinilah seninya untuk menjelaskan kepada para tukang loak agar mereka paham, tapi juga tidak membuat mereka ‘GR’ sehingga harganya menjadi selangit.
Keempat, berburu buku langka itu ternyata bisa having fun. Kita bisa senang dengan buku-buku yang kita dapatkan. Kita juga bisa mendapatkan untung lumayan besar, bila buku yang kita peroleh termasuk buku langka. Juga, ada kebanggaan dengan memiliki buku-buku yang tidak dimiliki orang lain. Dengan berburu buku langka, kita juga semakin banyak tahu dengan hal-hal yang baru, bahkan yang tidak bisa ketahui dari buku-buku baru. Kita bisa tahu peristiwa-peristiwa penting pada masa lalu, sehingga kita bisa mengambil hikmahnya.

Keasyikan lainnya dalam berburu langka, karena seringkali kita bertemu dan berkenalan dengan para kolektor. Kita jadi banyak teman. Bahkan kita juga bisa membantu orang lain dan membuat mereka lebih bahagia, karena buku-buku yang lama mereka cari dapat ditemukan melalui kita. Saya punya cerita menarik mengenai hal ini.

Beberapa bulan lalu tepatnya bulan Februari 2008, ada seorang siswa yang menghilangkan buku milik perpustakaan sekolahnya. Sialnya lagi, buku yang dihilangkannya itu adalah buku terbitan lama dan sudah tidak ada lagi stoknya di toko buku. Gara-gara ini, si siswa menjadi stress dan sakit serta tidak mau sekolah lagi. Sang bapak dari siswa ini kebingungan dan berusaha mencari buku yang hilang itu ke toko-toko buku namun tidak ketemu. Alhasil, dia menemukan buku itu di www.bukubagus.com yang saya kelola. Ini sangat membanggakan dan saya merasa puas karena bisa membantu masyarakat.

Meski banyak sukanya, berburu buku langka juga ada dukanya. Salah satu yang sering membuat kecewa adalah ketika kita sudah berkeliling ke tempat-tempat loak tapi bukunya tidak ada. Lebih kesal lagi, bila tukang loak yang ditemui bercerita kalau buku yang kita cari sehari sebelumnya sudah dibeli orang.

Apa kriteria sebuah buku dikategorikan langka? Menurut saya, ada tiga kategori buku langka. Pertama, buku baru, tapi dicetak dengan jumlah terbatas. Kedua, buku terbitan lama yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun yang bernilai sejarah, terkait tokoh penting di zamannya, atau peristiwa penting masa lalu. Namun, tidak semua buku tua berumur ratusan tahun termasuk buku langka. Ketiga, buku yang menjadi favorit di masa penerbitannya dan sudah tidak diterbitkan lagi. Dengan kriteria ini, masyarakat sudah bisa menilai sebuah buku, apakah termasuk langka atau tidak. Yang pasti, berburu buku langka itu mengasyikkan, mendapatkan banyak kenalan, bisa membantu orang, dan (kalau kita beruntung) mendapatkan uang.

*) Safak Muhammad, Pengelola bukubagus.com, alumnus Magister Manajemen Institute Pertanian Bogor (IPB), dan penulis beberapa buku best seller

Matabaca, Vo.6/no.10/Juni 2008.

AddThis Social Bookmark Button